Bloggerlist.net

Minggu, 06 Maret 2011

KEGUNAAN MEDIA PENDIDIKAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM)

KEGUNAAN MEDIA PENDIDIKAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR


Secara umum Media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunjan sebagai berikut ;

  • Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersipat verbalitas
  • Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu , daya indra, seperti : Objek yang terlalu besar – bisa di gantikan dengan realita , gambar,film bingkai, flim, atau model. Objek yang kecil di bantu dengan proyek mikro, flim bingkai, atau gambar
  • Konsep yang terluas (gunung merapi, gempa bumi, iklim, dan lain lain.
  • Penggunan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatsi sipat pasif anak didik, Dalam hal in media pendidikan untuk:
  • Menimbulkan kegembiraan belajar
  • Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dan lingkungan dan kenyataan.
  • Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampun dan minat nya 
  • Dengan sifat yang unik pada siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa , maka guru banyak mengakami kesulitan bila mana semuanyaitu harus diatasi sendiri.hal ini akan lebih sulit bila lata belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda .masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuanya dalam: memberikan perangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman, dan meninbulkan persepsi yang sama.

DASAR-DASAR PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

Menurut Sudjana (2003 : 68) bahwa perkembangan konsep teknologi pembelajaran dari komunikasi audio-visual menuju ke pendekatan sistem, disebabkan oleh adanya pemikiran yang memandang teknologi pendidikan sebagai suatu pendekatan sistem di dalam proses belajar mengajar yang dipesatkan pada desain, implementasi dan evaluasi terhadap proses mengajar dan belajar. Mulyasa (2004 : 148) mengemukakan bahwa pembaruan pembelajaran tidak harus disertai dengan pemakaian perlengkapan yang serba hebat. Dalam rangka pembangunan pendidikan guru dan pengembangan karier pendidikan seperti di atas perlu ditekankan pentingnya pengembangan cara-cara baru yang efektif dan sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik. Adapun menggunakan media gambar (poster), pemakaian media tersebut untuk menunjang pembelajaran. Kriteria pemeliharaan media harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan mengingat kemampuan dan sifat-sifat khasnya (karakteristik) media yang bersangkutan. Pemilihan media seyogyanya tidak terlepas dari konteksnya bahwasanya media merupakan komponen dari sistem instruksional secara keseluruhan. Karena itu, meskipun tujuan dan isinya sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti karakteristik siswa, strategi belajar mengajar, organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan sumber, serta prosedur penilaiannya harus dipertimbangkan (Ely dalam Arief, 2003 : 83).
MEDIA POSTER
Poster adalah salah satu media yang terdiri dari lambang kata atau simbol yang sangat sederhana, dan pada umumnya mengandung anjuran atau larangan (Depdikbud, 1988:50). Menurut Sudjana dan Rivai (2002:51) poster adaah sebagai kombinasi visual dari rancangan yang kuat, dengan warna, dan pesan dengan maksud untuk menangkap perhatian orang yang lewat tetapi cukup lama menanamkan gagasan yang berarti didalam ingatannya. Poster disebut juga plakat, lukisan atau gambar yang dipasang telah mendapat perhatian yang cukup besar sebagai suatu media untuk menyampaikan informasi, saran, pesan dan kesan, ide dan sebagainya (Rohani, 1997:76-77). Poster terdapat kelebihannya dengan harganya terjangkau oleh seorang guru tetapi ada juga kelemahannya dikarenakan media poster berdimensi dua, sehingga sukar untuk melukiskan sebenarnya. Media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (message) atau informasi dari suatu sumber (resource) kepada penerimanya (receiver). Dalam dunia pengajaran, pada umumnya pesan atau informasi tersebut berasal dari sumber informasi, yaitu guru, sedangkan penerima informasinya adalah siswa. Pesan atau informasi yang dikomunikasikan tersebut berupa sejumlah kemampuan yang perlu dikuasai oleh para siswa. 
Oleh Bloom (dalam Rahmanto, 1998:14) mengemukakan bahwa kemampuan tersebut dikelompokkan menjadi tiga ranah (domain) yang kemudian dikenal dengan istilah “taksonomi”, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Dalam setiap proses belajar-mengajar antara guru dan siswa mempunyai tujuan yang sama, yaitu siswa mengalami perubahan yang positif dan sebelum proses belajar-mengajar dilalui dan sesudah proses belajar-mengajar berlangsung meskipun ada perbedaan-perbedaan yang terdapat antara setiap siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Perbedaan itu dapat terjadi pada tingkat keterampilan kognitifnya, dapat terjadi pada cara siswa menangkap pengetahuan yang baru, dan dapat pula pada tingkat keterampilan motoriknya.Kalau guru bertolak dari pemahaman bahwa penggunaan media dalam proses belajar-mengajar bertujuan untuk memudahkan siswa belajar, maka dalam penggunaan media harus juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan pada diri setiap siswa.
Banyak ahli telah mengemukakan teori tentang proses belajar-mengajar anak seiring dengan pertumbuhan mentalnya. Dalam proses belajar mengajar salah satu tugas utama guru adalah membangkitkan minat belajar siswanya. Piaget dengan teori perkembangan intelektualnya mengatakan bahwa perkembangan anak mengikuti fase-fase perkembangan. Fase-fase itu telah kita kenal yaitu: fase sensori motor, fase praoperasional, fase konkret operasional, dan fase formal operasional.

Dengan mengetahui prinsip-prinsip pemilihan media, maka pertimbangan pokok dalam memilih media, terdiri atas beberapa kriteria sebagai berikut ;
  • Media yang dipilih hendaknya selalu menunjang tercapainya tujuan pengajaran;
  • Media yang dipilih hendaknya selalu disesuaikan dengan kemampuan siswa;
  • Media yang digunakan hendaknya tepat guna; 
  • Media yang dipilih hendaknya memang tersedia, artinya alat/bahannya atau tersedia waktu untuk mempersiapkan dan mempergunakannya; 
  • Media yang dipilih hendaknya disenangi oleh guru dan siswa; 
  • Persiapan dan penggunaan media hendaknya disesuaikan dengan biaya yang tersedia; 
  • Kondisi fisik lingkungan, turut mempengaruhi media. Olah karena itu , perlu diperhatikan baik-baik kondisi lingkungan pada saat merencanakan penggunaan media.
POLA PENGGUNAAN MEDIA

Guru harus mamahami tentang pola penggunaan media yang tepat. Pola penggunaan media yang dimaksud, yaitu:
  • Pola Penggunaan di dalam Kelas : Media ini digunakan dengan tujuan untuk menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Karena itu dalam merencanakan penggunaan media, guru harus mempertimbangkan tujuan pengajaran, materi pengajaran, dan strategi pengajaran. Ada beberapa hal yang harus dipikirkan pada penggunaan media tersebut yaitu : Media yang digunakan harus transparansi dan tersedia, teknik atau metode yang digunakan oleh guru harus sesuai, dan memperhatikan kondisi kelas yang digunakan dalam proses belajar-mengajar (Budinuryanta, 1998: 15).
  • Pola Penggunaan di luar Kelas : Pola ini dapat ditemukan pada beberapa contoh kasus seperti dalam pengajaran Senam Kesegaran Jasmani (SKJ). Hal ini tidak hanya diterapkan disekolah bahkan pada kelompok masyarakat di luar pun menggunakan hal seperti itu. Pemakaian media seperti ini, dapat berlaku kapan saja, tergantung kepada tujuan yang hendak dicapai pemakainya.
Prosedur Penggunaan Media Pengajaran
Telah diuraikan sebelumnya bahwa media pengajaran seharusnya dipilih secara sistematik, agar dapat digunakan secara efektif dan efisien. Menurut Budinuryanta (1998:17) mengemukakan bahwa ada tiga langkah pokok dalam prosedur penggunaan media pengajaran yang perlu diikuti yaitu ;
  1. Persiapan
  2. Pelaksanaan (penyajian dan penerimaan) dan 
  3. Dan Tindak lanjut 
Ketiga langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut ;
1. Persiapan
Langkah ini dilakukan sebelum menggunakan media. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penggunaan media dapat dipersiapkan dengan baik, yaitu: (1) pelajari buku petunjuk atau bahan penyerta yang telah disediakan, kemudian diikuti di dalamnya, (2) siapkan peralatan yang diperlukan untuk menggunakan media yang dimaksud, (3) tetapkan apakah media tersebut digunakan secara individual atau kelompok, dan (4) atur tatanannya, agar peserta dapat melihat, dan mendengar pesan-pesan pengajarannya dengan baik.
2. Pelaksanaan (Penyajian)
3. Tindak Lanjut
Kegiatan ini bertujuan untuk memantapkan pemahaman peserta terhadap pokok-pokok materi atau pesan pengajaran yang hendak disampaikan melalui media tersebut. Selanjutnya, pada beberapa media yang dilengkapi dengan alat evaluasi, maka langkah ini dimaksudkan pula untuk melihat tercapai atau tidaknya tujuan yang ditetapkan. Kegiatan tindak lanjut ini umumnya ditandai dengan kegiatan diskusi, tes, percobaan, observasi, latihan, remediasi, dan pengayaan.

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI DALAM PBM
Baugh (dalam Sulaiman, 1998:30) mengemukakan tentang perbandingan peranan tiap alat indera kita. Semua pengalaman belajar yang dimiliki seseorang dapat dipersentasikan yaitu: 90% diperoleh melalui indera lihat, 5% melalui indera dengar, dan 5% melalui indera lain. Pengalaman belajar manusia sebanyak 75% diperoleh melalui indera lihat, 13% melalui indera dengar dan selebihnya indera lain.
Bertolak dari yang dikemukakan oleh para ahli di atas mengenai pengalaman belajar lebih banyak diperoleh melalui indera lihat, maka dalam proses belajar-mengajar diupayakan penggunaan media visual sebagai alat bantu penyampaian materi pelajaran. Dapat dikatakan bahwa penggunaan media dalam pengajaran khususnya media gambar akan sangat membantu mempercepat pemahaman atau pengertian dari murid sebagai peserta didik.
Keefektifan penggunaan alat bantu gambar dalam proses belajar-mengajar, dapat dilihat dari hasil penelitian Spaulding (dalam Soeparno, dkk, 1998:25) menguraikan tentang bagaimana siswa belajar melalui gambar, sebagai berikut: 
  • gambar merupakan perangkat pengajaran yang dapat menarik minat siswa secara efektif, 
  • gambar harus dikaitkan dengan kehidupan nyata, agar minat siswa menjadi efektif, dan 
  • gambar membantu para siswa membaca buku pelajaran terutama dalam menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi teks yang menyertainya.
METODE
Salah satu cara untuk mengetahui tingkat keefektifan media gambar dalam penulisan karangan pada siswa pendidikan dasar adalah membandingkan dua kelompok siswa. Kelompok pertama sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kedua sebagai kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan sedangkan kelompok kedua tidak diberikan perlakuan.

KESIMPULAN
Kesimpulan dalam penelitian ini sebagai berikut:
Media gambar seri, efektif digunakan dalam menulis karangan pada siswa tingkat pendidikan dasar, 
Murid kelas eksperimen mampu mengumpulkan mean 134,83 sedangkan kelas kontrol hanya mampu mengumpulkan mean 114. Hasil perbandingan skor ini membuktikan bahwa media gambar berpengaruh positif terhadap penulisan karangan pada siswa tingkat pendidikan dasar, 
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara siswa, problem utama yang dihadapi oleh siswa dalam menulis karangan yaitu mengorganisasikan ide untuk membentuk rangkaian karangan yang utuh. Begitu pula masih rendahnya perbendaharaan kosakata dan wawasan siswa terhadap apa yang dikaji.



DAFTAR RUJUKAN

Budinuryanta. 1998. Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdikbud. 1996. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.s
Hadi, Sutrisno. 1987. Statistik Jilid II. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Rahmanto. 1998. Cerita Rekaan dan Drama. Jakarta: Depdikbud.
Soeparno, dkk. 1998. Media Pengajaran Bahasa. Jakarta: PT Intan Pariwara.

Sumber : medpend.blogspot.com dengan sedikit perubahan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar