Bloggerlist.net

Jumat, 20 Mei 2011

KERJASAMA SEKOLAH DAN MASYARAKAT

KERJASAMA SEKOLAH DAN MASYARAKAT
(Objek Studi: SMK NEGERI SITURAJA)
MAKALAH
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Pengelolaan Pendidikan
dengan Dosen Pembimbing Dr. Diding Nurdin, M. Pd.
Disusun oleh:
Kelompok 10
Ø  Asep Kurnia Putra                        (0902173)
Ø  Muharom Jamaludin                    (0905583)
Ø  Saim Hidayat                                (0900661)


                                            JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNIK DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2011




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Makin majunya perkembangan masyarakat diisyaratkan makin besarnya tuntutan masyarakat terhadap perkembangan lembaga pendidikan, sehinga tidak menutup kemungkinan bagi lembaga yang tidak dapat mengakomodasi tuntutan masyarakat tersebut maka tidak mustahil akan berdampak pada pengucilan lembaga atau dengan kata lain lembaga tersebut akan mati bersamaan dengan memudarnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut.
Tumbuh kembangnya kepercayaan masyarakat mengisyaratkan pula atas desakan kebutuhan lembaga untuk semakin berkembang guna menjawab tantangan serta kebutuhan masyarakat seningga pada gilirannya masyarakat akan menentukan pilihan lembaga mana yang layak untuk diberikan kepercayaan mendidik masyarakat peserta didik.
Desakan kebutuhan masing – masing baik lembaga ataupun masyarakat tertentu berbeda walaupun pada prinsip dasarnya memiliki kesamaan yakni mencerdaskan kehidupan anak bangsa, dan citi – cita akan tampak hanya sebagai sebuah angan – angan jika antara masyarakat dan lembaga pendidikan tidak terjalin komunikasi dengn baik, sehingga lajim dikatakan bahwa keduanya merupakan simbiosis mutualisme, yakni sebagai suatu keharusan yang menyatakan visi dan misi diantara keduanya sehingga satu sama lainnya tidak dapat melepaskan diri.
Dalam bahasa yang lebih dinamis dikatakan bahwa lembaga pendidikan dan masyarakat bukan hanya sekedar menjalin hubungan, tetapi lebih kepada komunikasi, dan keluasan makni ini akan berdampak terhadap harmonisasi hubungan sekolah dan masyarakat sehingga pada gilirannya dapat tercipta jika masing – masing elemen yang menjadi pelengkap hubungan tersebut dapat terpelihara serta masing – masing memberikan dukungan satu sama lainnya. Dengan kata lain, hubungan masyarakat dengan sekolah akan menumbuhkan hasil berupa kerjasama, dan kerjasama tersebut dapat terlaksana dengan baik jika terjadi komunikasi yang kondusif yang mengarah kepada pemenuhan kebutuhan keduanya.
Adapun sekolah yang menjadi tujuan observasi kami adalah Sekolah Menengan Kejuruan Negeri (SMKN) Situraja, yang beralamat di Jl. Tanjung Manunggal V Sukatali. Situraja-Sumedang. Tlp. 0261-2755176.
B.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.   Bagaimanakah hubungan lembaga sekolah dengan masyarakat sekolah ?
2.   Bagaimanakah hubungan lembaga sekolah dengan masyarakat sekitar ?
3.   Apakah hubungan yang dijalin sekolah dengan masyarakat berjalan dengan baik ?
4.   Apakah sekolah sebagai lembaga sosial sudah mampu berperan sebagai agen of change, selecting agency, class leveling agency dalam hubungannya dengan masyarakat ?
5.   Dalam pelaksanaannya dilapangan, apakah hubungan antara sekolah dengan masyarakat sekitar megalami kendala – kendala yang cukup berarti, seperti tujuan komunikasi yang kurang jelas ?
C.  Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Mengetahui hubungan lembaga sekolah dengan masyarakat sekolah.
2.      Mengetahui hubungan lembaga sekolah dengan masyarakat sekitar.
3.      Memahami apakah hubungan yang dijalin antara sekolah dengan masyarakat itu baik atau tidak.
4.      Memahami apakah sekolah sebagai lembaga sosial sudah mampu berperan sebagai agen of change, selecting agency, class leveling agency dalam hubungannya dengan masyarakat.
5.      Memahami apakah hubungan antara sekolah dengan masyarakat sekitar megalami kendala – kendala yang cukup berarti, seperti misalnya tujuan komunikasi yang kurang jelas.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Konsep Dasar Kerjasama Sekolah dan Masyarakat
Jika dilihat dari sisi maknanya, hubungan sekolah dan masyarakat memiliki pengertian yang sangat luas sehingga masing – masing ahli memilki persepsi yang berbeda – beda, hal ini tentu disebabkan oleh sudut pandang yang berbeda – beda, seperti diungkapkan bahwa “hubungan masyarakat dengan sekolah merupakan komunikasi dua arah antara organisasi dengan publik secara timbal balik baik dalam rangka mendukung fungsi dan tujuan manajemen dengan meningkatkan pembinaan kerjasama serta pemenuhan kepentingan bersama” (international public relation association).
Secara lebih umum dikatakan bahwa hubungan sekolah dan masyarakat diartikan sebagai suatu proses komunikasi dengan tujuan meningkatkan pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dan praktek pendidikan serta berupaya dalam memperbaiki sekolah (Soetopo dan Soemanto; 1992: 236).
Memaknai pengertian komunikasi, secara spesifik dikemukakan oleh Emerson Reck (1993: 25) bahwa:
Public relation is the continued process of keying policies, service and action to the best interest of those individual and group whose confidence and goodwill and individual or institution covest, and secondly, it is the interpretation of these policies, services and action toassure complete understanding and appreciation.
Public relation dimaknai sebagai sebuah proses penetapan kebijakan, pelayanan serta tindakan – tindakan nyata berupa kegiatan yang melibatkan orang banyak agar orang – orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut memiliki kepercayaan terhadap lembaga yang menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Hal serupa dikemukakan oleh Rex Harlow (1999: 17) bahwa: Public relation merupakan suatu fungsi dari manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya terutama menyangkut aktivitas komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerjasama, melibatkan manajemen dalam melibatkan persoalan permasalahan, membantu manajemen menanggapi opini public, mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif, bertindak sebagai sistem peringatan dini dalam mengantisipasi kecenderungan mempergunakan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama.
Pengertian diatas jauh lebih bersifat umum dan sedikitnya mengalami kesulitan bagi pembaca pemula karena demikian banyak elemen yang terlibat di dalam pengukuran efektifitas suatu komunikasi. namun ada hal yang menarik bahwa komunikasi hendaknya dilakukan melalui pengkajian penelitian dan pengembangan hal ini p[er;u disadari terutama oleh manajemen sekolah bahwa penelitian dan pengembangan adalah sesuatu yang mutlak dilaksanakan oleh lembaga sebab atas dasar inilah maka akan muncul kebutuhan-kebutuhan mendesak yang dirasakan oleh masyarakat dan perlu sgera ditanggapi.
Hal senada dikemukakan pula oleh leslie dalam (The School And Community Relations; 1984:14) bahwa:
School public relations is a process of comunication between the school and community for purpose of increasing citizen understanding of educational needs and practices and encouraging antelligent citizen interest and cooperation in the work of improving the school.
Pengertian diatas hampir memiliki kesamaan dengan apa yang diungkapkan oleh Mamusung (1988: 6)  bahwa sekolah sebagai lembaga sosial yang diselengarakan dan dimiliki oleh masyarakat seharusnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya dan sekolah memiliki kewajiban secara legal dan formal untuk memberikan penerangan kepada masyarakat tentang tujuan-tujuan, program-progam, kebutuhan serta keadaannya, dan sebaliknya sekolah harus mengetahui dengan jelas apa kebutuhan, harapan dan tuntutan masyarakatnya.
Memaknai pendapat – pendapat diatas. Penulis memiliki persepsi yang berbeda dan hal ini belum diungkapkan oleh penulis-penulis sebelumya, yakni saluran komunikasi dengan lembaga sebab hal ini sekaligus berhubungan dengan tujuan, peran dan fungsi antara keduanya.
Secara umum hubungan sekolah dan masyarakat memiliki tujuan yang hendak  dicapai yakni berupa peningkatan mutu pendidikan, sehingga pada gilirannya, masyarakat akan merasakan dampak langsung dari kemajuan tersebut. adapun tujuan yang lebih kongkrit hubungan sekolah dan masyarakat antara lain:
1.      guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan peserta didik
2.      berperan dalam memahami kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang sekaligus menjadi desakan yang dirasakan saat ini.
3.      berguna dalam mengembangkan program-program sekolah kearah yang lebih maju dan lebih membumi agar dapat dirasakan oleh masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan.
Untuk membantu pemahaman tentang makna dari hubungan sekolah dan masyarakat, maka Oteng Sutisna (Administrasi dan Supervisi Pendidikan) mengungkapkan bahwa hubungan sekolah dan masyarakat memilki tujuan dalam:
1.      Mengembangkan pemahaman tentang maksud dan saran-saran dari sekolah
2.      Menilai program sekolah dengan kata-kata kebutuhan terpenuhi
3.      Mempersatukan orang tua, murid serta guru-guru dalam memenuhi kebutuhan perkembangan peserta didik
4.      Mengembangkan kesadaran akan pentingnya pendidikan sekolah dalam era pembangunan
5.      Membangun dan memelihara kepercayaan terhadap sekolah
6.      Memberitahu masyarakat tentang pekerjaan sekolah
7.      Mengerahkan bantuan dan dukungan bagi pemeliharaan dan peningkatan program sekolah.
Adapun peran serta fungsi sekolah dalam mengembangkan hubungannya dengan masyarakat antara lain bertujuan dalam merumuskan saluran – saluran komunikasi yang dapat dipergunakan bak oleh sekolah maupun oleh masyarakat yang notabene selama ini diabaikan dan bahkan dalam pengamatan penulis hal inilah yang menyebabkan komunikasi sekolah dan masyarakat selama  ini kurang harmonis.
Disadari atau tidak, sekolah sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang sosial dan hal ini harus mampu berperan sebagai agent of change, selecting agency, class leveling agency, assimilating agency, dan agent of preservation. Sebagai agent of change tentu lembaga pendidikan hendaknya lebih mengedepankan peran dan fungsinya sebagai pembaharu bagi masyarakat peserta didik dan masyarakat umum terutama dalam menggali potensi yang mengarah pada paradigma dan perubahan berpikir dan berperilaku yang sesuai dengan standar norma yang berlaku, sehingga jika masyarakat peserta didik melakukan pelanggaran atas hal tersebut, maka ada dua pertanyaan yang dikemukakan apakah lembaga tidak berhasil dalam mendidik peserta didik ataukah peserta didik itu sendiri yang memang susah untuk dibentuk sebagai manusia berakal yang berakhlakul karimah.
Sedangkan sebagai selecting agency lembaga hendaknya mau dan mampu memilih potensi masyarakat yang beragam, tentu hal ini membutuhkan keterampilan – keterampilan khusus, terutama dari pengelola pendidikan sehingga pada gilirannya potensi masyarakat dalam hal ini peserta didik mampung berkembang secara optimal
Adapun peran dan fungsi lembaga pendidikan sebagai class levelling agency hendaknya lembaga pendidikan mampu menjadi perantara sebagai peningkat taraf sosial bagi masyarakat peserta didik itu sendiri, sehingga kecenderungan peserta didik untuk berperilaku yang menyimpang terhadap peran dan fungsi lembaga sebagai assimilating agency dapat terhindarkan sedini mungkin.
Jika prinsi – prinsip diatas dapat dilaksanakan, maka pada gilirannya tuntutan lembaga pendidikan sebagai agent of preservation akan terlaksana dengan baik dan jika hal ini terjadi, maka pemeliharaan serta penerusan sifat – sifat budaya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang luhur akan terpelihara dan dapat diteruskan.
B.     Implementasi di Lapangan
Kenyataan dilapangan membuktikan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat mengalami kendala yang cukup berarti diantaranya:
1.      Tujuan komunikasi yang kurang jelas
2.      Saluran komunikasi yang transparan dan professional
3.      Keterampilan komunikasi yang kurang mendukung
4.      Tindak lanjut yang kurang mendukung dan pengawasan kurang terstruktur dan berkesinambungan.
Hendaknya pembahasan mengenai hubungan sekolah dan masyarakat hendaknya sudah mulai dirumuskan pada beberapa persoalan pokok, yakni apa dampak yang akan dirasakan, siapa yang merasakan langsung atas dampak tersebut serta bagaimana membedakan masyarakat peserta didik dengan masyarakt umum. Namun dari sekian banyak pertanyaan yang muncul maka ada salah satu pertanyaan yang muncul maka ada salah satu pertanyaan yang hendaknya dirumuskan secara lebih pasti yakni bagaimana dampak hubungan tersebut berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik dan kemajuan kelembagaan.
Tujuan komunikasi atau dalam hal ini hubungan sekolah dan masyarakat yang dilakukan oleh lembaga selama ini masih bersifat one way traffic communication sehingga muncul kesan bahwa lembaga hanya mengharapkan dukungan masyarakat hanya untuk mempertahankan eksistensi kelembagaan semata, bahkan kesan lain yang muncul kepermukaan bahwa lembaga hanya ingin mendapatkan keuntungan semata sementara kebutuhan masyarakat terhadap lembaga kurang diperhatikan.
Berikutnya saluran komunikasi yang dilakukan oleh lembaga dapat dilakukan melalui beberapa saluran, diantarany:
1.      Transparansi laporan keuangan sekolah terhadap orang tua murid
2.      Bulletin sekolah
3.      Surat kabar
4.      Pameran sekolah
5.      Open house
6.      Kunjungan ke sekolah
7.      Kunjungan ke rumah siswa
8.      Penjelasan oleh stf sekolah
9.      Gambaran keadaan sekolah melalui siswa
10.  Melalui radio dan televise
11.  Laporan tahunan, dan lain-lain.
Sampai saat ini, semestinya kita sebagai pengelola kelembagaan mempertanyakan saluran komunikasi tersebut diantaranya saluran manakah selama ini telah kita pergunakan serta bagaimana tingkat keefektifan saluran – saluran yang dipergunakan dan selanjutnya bagaimana pengelola mampu memperbaiki komunikasi tersebut sehingga akan berdampak terhadap perbaikan lembaga secara berkelanjutan.
Namun ada hal lain yang dituntut dari lembaga yakni keterampilan – keterampilan komunikasi, sudah semestinya lembaga mempergunakan sistem komunikasi dua arah (two way traffic communication), artinya kebermaknaan suatu komunikasi mampu diarahkan pada perbaikan system pendidikan secara menyeluruh dan hal ini merupakan tugas bersama antar pengelola lembaga dan masyarakat sehingga pada gilirannya ketika komunikasi tersebut tidak sampai baik kepada lembaga ataupun masyarakat maka tidak akan mengalami kesulitan dalam menterjemahkannya kedalam system operasional yang disepakati oleh keduanya (lembaga dan masyarakat).
Hal lain yang selama ini terlupakan yakni pengwasan berkelanjutan, survei membuktikan bahwa kelemahan yang terjadi pada kelembagaan kita adalah pengewasan mutu yang berkelanjutan, sebagai salah satu contoh komite sekolah berperan dalam memberikan control terhadap mutu kelembagaan yang datang dari masyarakat namun kenyataannya sampai sejauh mana komite tersebut berperan dalam peningkatan mutu kelembagaan.
Pada beberapa Negara maju seperti Australia dikenla dengan School Council yang selanjutnya di Indonesia disebut dengan komite sekolah. Djam’an (2001) menyebutkan bahwa komite sekolah akan terdiri dari kepala sekolah, refresentatif staf sekolah, orang tua murid, anggota masyarakat dan refresentatif dari departemen pendidikan setempat.
Komite sekolah bertanggung jawab dalam penyusunan perencanaan strategic dan tahunan sekolah, perumusan kebijakan sekolah, pemenuhan kebutuhan sekolah, anggaran sekolah, ikut memantau kegiatan keseharian sekolah, menilai keberhasilan pelaksanaan program – program sekolah yang dilaksanakan sekolah serta ikut memisahkan laporan tahunan sekolah.
C.     Bentuk Kerjasama Sekolah dengan Masyarakat
Secara sederhana “Hubungan” atau “communication” dapat diartikan sebagai process by wich a person transmits a massage to another (proses penyampaian berita dari seorang kepada orang lain). Kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat disini mengandung beberapa pelibatan secara langsung yaitu:
1.      Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain (juga sebagai sumber berita)
2.      Apa yang disampaikan (isi/informasi)
3.      Alat, medis yang digunakan (dapat berupa kata-kata bunyi, laporan dan lain sebagainya)
4.      Tujuan penyampaian, (dapat perintah, pemberitahuan)
5.      Orang yang menerima informasi (komunikasi/communicate)
6.      Response/jawaban yang diberikan oleh sipenerima.
Dibagian sebelumnya telah sedikit disinggung mengenai bentuk kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat. Berbagai bentuk humas dalam lingkup lembaga pendidikan dapat dikelompokkan lagi menjadi bentuk langsung dan tidak langsung. Bentuk langsung anatara lain pertemuan formal (rapat) antara guru, pertemuan dengan orangtua/wali murid, pertemuan sekolah dengan masyarakat atau instansi terkait lainnya.
Bentuk tidak langsung misalnya melalui media cetak (majalah dinding, majalah pendidikan, pamflet), media elektronik (iklan pada televisi dan radio), dan media pameran sekolah. Beberapa bentuk kerjasama hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat sebagaimana telah disebutkan di atas adalah majalah dinding dan media pendidikan. Dalam membuat media publisitas tersebut, ada beberapa asas publisitas yang seharusnya diperhatikan, yaitu:
1.      Materi obyektif dan resmi
2.      Penyelenggara mading terorganisir
3.      Mendorong partisipasi warga sekolah
4.      Mempertahanka kontinyuitas
5.      Memperhatikan respons/tanggapan.
D.    Pola Kerjasama
1.      Pola Kerjasama Program Permagangan/PKL
Kombinasi pembelajaran teori di ruang kelas dan perpustakaan (Theoretical Learning) dan pembelajaran praktek di laboratorium (Practical Learning) dirancang sedemikian rupa dalam rangka menghasilkan lulusan dengan tingkat mutu tertentu yang siap memasuki dunia kerja. Keberhasilan pendidikan vokasi tidak hanya diukur dari segi mutunya saja melainkan juga dari segi relevansinya. Hubungan mutu dan relevansi ibarat dua sisi dari satu keping mata uang. Mutu lulusan pendidikan vokasi dianggap relevan oleh para pengguna lulusan, yang dalam hal ini adalah sektor Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) apabila apa yang mereka dapatkan sama dengan atau lebih besar dari yang mereka harapkan. Kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, dimana DUDI menilai bahwa lulusan pendidikan vokasi belum siap kerja, mereka over qualified but under experience.
Berdasarkan pengalamannya, banyak pre-rekruit menghadapi dilema dimana banyak pelamar yang memiliki potensi tinggi harus direlakan untuk tidak diseleksi lebih lanjut karena tidak memiliki pengalaman kerja yang relevan sebagaimana seringkali diminta pada iklan – iklan lowongan kerja. Sekarang dan kedepan, para penyedia kerja mengharapkan dari para lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan dari bidang studi atau keahliannya saja, tetapi juga kemampuan adaptasi terhadap lingkungan kerja baru dimana mereka bergabung, membawa keterampilan – keterampilan komunikasi yang luar biasa, kemampuan memimpin dan dipimpin, dan kemampuan yang teruji dapat berfungsi secara efisien dan efektif. Ini berarti bahwa transferable skills penting bagi para siswa.
Transferable skills adalah keterampilan – keterampilan atau kemampuan – kemampuan yang dapat diaplikasikan dengan sama dari pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya. Keterampilan – keterampilan ini juga dikenal dengan keterampilan – keterampilan kunci (key skills), keterampilan – keterampilan jenerik (generic skills) atau keterampilan - keterampilan inti (core skills). Keterampilan - keterampilan tersebut meningkatkan employability lulusan dan dapat diperbaiki melalui pembelajaran di tempat kerja. Menyisakan selisih negatif mahasiswa perlu mendapatkan experiential learning. Disamping itu fasilitas laboratorium yang tersedia pada umumnya di set-up berupa miniatur simulatif inkubatif eksperimentatif sebagai sarana belajar bukan untuk memproduksi barang atau/dan jasa yang riil untuk pasar. Pengalaman kerja sama sekali berbeda dari eksperimen dan tidak dapat digantikan oleh laboratorium. Bekerja di industri adalah cara terbaik untuk mempelajari sikap professional, interpersonal skills. Juga berbeda dengan pembelajaran di kelas yang lebih didasarkan pemerolehan se-set keterampilan teknis, dan kegiatan-kegiatan pengajaran formal yang membekali peserta didik dengan pengetahuan, skills dan konsep-konsep, dan penekanan pada keterampilan-keterampilan kognitif. WBL berbeda dari pembelajaran di kelas karena fokusnya pada pembelajaran reflektif atas apa-apa yang dikerjakan.
Pembelajaran di tempat kerja atau program sandwich atau kerjasama pendidikan atau penempatan kerja atau magang, bukan apprenticeship. Sedangkan pembelajaran di tempat kerja adalah suatu pembelajaran yang terstruktur dimana seseorang peserta didik diminta untuk bekerja di suatu perusahaan atau organisasi dalam suasana kerja yang sesungguhnya dengan tujuan belajar dari kerja dengan disupervisi oleh tutor akademik dan supervisor di tempat kerja, belajar secara mandiri yang didukung oleh kontrak-kontrak pembelajaran dan petunjuk-petunjuk pembelajaran. DUDI lebih suka lulusan yang punya pengalaman kerja dengan alasan mereka dapat bekerja secara mandiri dalam waktu yang tidak begitu lama setelah diterima kerja. Kerjasama permagangan dilakukan sebagai upaya pengembangan keterampilan siswa SMK dalam bentuk kerja nyata industri yang diharapkan juga dapat memberikan keuntungan bagi industri untuk memanfaatkan mereka sebagai tenaga kerja bantu pada level operasional dan juga industri bisa memanfaatkan moment ini sebagai program prerecruitment bagi siswa yang memiliki job preferment yang baik sehingga pola ini bisa berlanjut sebagai awal untuk recruitment karyawan tingkat operator,pola kerjasama bisa dilakukan secara berkesinambungan,dan secara teknis sekolah yang harus berinisiatif untuk mengiformasikan ke pihak industry mengenai jadwal dan waktu, sehingga antara industri dan sekolah secara bersama sama membuat komitmen dengan payung MoU,.Sebagai panduan Pola kerjasama ini akan dilengkapi dengan SOP (Standar Operasional Prosedur)  yang lebih detail.
2.      Pola Kerjasama Program Pelatihan
Pelatihan  dan  pengembangan yang dilakukan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia telah dilakukan dengan berbagai pendekatan yang bersifat konvensional (pedagogis) Pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seorang individu. Pelatihan berkenaan dengan perolehan keahlian-keahlian atau pengetahuan tertentu.
Pada pola kerjasama Program Pelatihan ini dititikberatkan pada optimalisasi seluruh  sumberdaya yang ada di sekolah untuk bisa digunakan pada proses pelatihan bagi tenaga pelaksana industri dan juga merupakan sarana untuk menjadikan kemitraan dengan industri agar tetap berkesinambungan, dengan pola kerjasama pelatihan ini diharapkan bahwa kedekatan industry dengan sekolah akan tetap terjaga dengan inten, karena terjadi ikatan yang saling membutuhkan dan saling memberikan manfaat.
Pola kerjasama ini harus dilakukan dengan inisiatif awal dari sekolah dengan pola jemput bola, mendatangi industri untuk mencari kebutuhan kompetensi yang bisa mendorong kemajuan industri dari sisi kemampuan sumberdaya manusia minimal untuk tingkat pelaksana (operator) industri, yang pada akhirnya industri akan tumbuh dan berkembang melalui penambahan kompetensi,dan sekolah bisa menjamin pola pelatihan,peralatan yang tersedia dan para pengajar memang memiliki kemampuan.
Untuk memberikan kepercayaan kepada industri pola ini akan dibuat secara detail dan terinci dalam Guide line pelatihan, dan akan dilindungi dengan payung Mou yang lebih jelas.
Proses pelaksanaan akan ditangani secara professional oleh unit pelaksana teknis produksi dan training dibawah bidang kerjasama dan pelayanan Industri disetiap Sekolah Kejuruan (SMK).

3.      Pola Kerjasama Program Produksi (Produk Inovatif)
Pola kerjasama dalam bidang produksi adalah suatu upaya dalam implementasi kurikulum, dengan metoda Production Base Education (PBE), dengan harapan untuk lebih mempertajam kompetensi yang didapatkan dari para siswa, hal ini bisa dilakukan apabila set-up peralatan dan sarana labolatorium dan bengkel memadai untuk melakukan kegiatan produksi disamping tuntutan kompetensi para pengajar yang paling tidak setara dengan para supervisor industry, baik secara hard skill atau pun soft skill,pola ini lah nanti yang bisa disebut dengan Teaching Factory, dan ini bisa berjalan dengan efektif apabila pihak sekolah mampu meyakinkan industry disekitarnya untuk menjadi mitra dalam kegiatan produksi dan sekaligus menjadi vendor dari industri disekitarnya.
Proses pelaksanaan akan ditangani secara professional oleh unit pelaksana teknis Produksi dan training dibawah bidang kerjasama dan pelayanan Industri disetiap Sekolah Kejuruan (SMK). 
4.      Pola Kerjasama Program Penyaluran Lulusan
Pola kerjasama Program Penyaluran lulusan adalah ujung tombak dari seluruh program, karena inilah yang akan menjadi tolak ukur dari keberhasilan dalam proses akhir dari kegiatan pembelajaran dengan harapan bahwa semua output menjadi outcome, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan kerjasama industry kemitraan dalam proses recruitment lulusan, hal ini harus dilakukan dengan inisiatif dari pihak sekolah menyampaikan data dan kompetensi dari lulusan dan bisa memberikan jaminan bahwa lulusan yang akan disalurkan memeiliki kompetensi yang memadai dan sesuai dengan standar kebutuhan industri, baik secara Knowledge Skills dan Attitude.
           Proses pelaksanaan akan ditangani secara professional oleh unit pelaksana teknis PKL dan Penyaluran, dibawah bidang kerjasama dan pelayanan Industri disetiap Sekolah Kejuruan (SMK).



BAB III

HASIL OBSEERVASI DAN WAWANCARA

A.    Hasil Observasi
      Dari observasi yang kami lakukan, tepatnya kami melakukan observasi di SMK Negeri Situraja, kami mendapatkan informasi secara umum SMK Negeri Situraja sebagai berikut:
1.      Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMK Negeri Situraja
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian  dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian Kompetensi pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain dari itu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005.
Panduan yang disusun BSNP terdiri atas dua bagian. Pertama, Panduan Umum yang memuat ketentuan umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam SI dan SKL.Termasuk dalam ketentuan umum adalah penjabaran amanat dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta prinsip dan langkah yang harus diacu dalam pengembangan KTSP. Kedua, model KTSP sebagai salah satu contoh hasil akhir pengembangan KTSP dengan mengacu pada SI dan SKL dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan BSNP. Sebagai model KTSP, tentu tidak dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hendaknya digunakan sebagai referensi.
Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta didik untuk :
1.      Belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
2.      Belajar untuk memahami dan menghayati,
3.      Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,
4.      Belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan
5.      Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di SMK Negeri Situraja apabila kegiatan belajar mampu membentuk pola tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan, serta dapat dievaluasi melalui pengukuran dengan menggunakan tes dan non tes. Proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang cukup dan terencana dengan baik supaya dapat diterima untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan masyarakat global mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi perkembangan dunia global Sebagai proses untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.


2.      Landasan

Landasan Pendidikan di SMK Negeri Situraja yaitu:
a.       Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38 Ayat 2 dan  Pasal 51 Ayat 1
b.      Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan  Pasal 17 Ayat 2, dan Pasal 49 Ayat 1
c.       Peraturan Mendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.
d.      Peraturan Mendiknas Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
e.       Peraturan Mendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan permen diknas nomor .22 dan 23.
3.      Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan
Tujuan pendidikan menengah kejuruan  adalah meningkatkan kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan  lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
4.      Visi Dan Misi SMK  Negeri Situraja
a.       Visi
Beriman dan bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa Profesional, unggul, mandiri, cerdas, terampil dan mengembangkan kompetensi dasar yang dimilikinya serta melayani kebutuhan dunia industri/ dunia usaha
b.      Misi
1)      Menyediakan fasilitas belajar mengajar sesuai dengan tuntutan kurikulum bagi terselenggaranya Proses Belajar Mengajar.
2)      Menumbuhkembangkan semangat keunggulan kepada seluruh warga sekolah.
3)      Menyiapkan peta tamatan untuk mengisi kebutuhan dunia industry/dunia usaha baik secara mandiri atau mengisi lowongan kerja yang ada.
4)      Mendorong dan membantah untuk menyadari kompetensi dasar yang dimilikinya sehingga dapat dikembangkan secara optimal.
5)      Membina dan membimbing dalam suasana religius.
6)      Menata dan mengmbangkan IPTEK serta menjadikan lembaga pendiidkan yang professional, sehat, dinamis, dan inovatif dalam suasana kekeluargaan yang dilandasi oleh pancasila dan UUD 1945 untuk terwujudnya pengembangan fisik dan non fisik sekolah.
7)      Mengembangkan diri di masa dating melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
8)      Membantu pemerintah dalam mengurangi angka putus sekolah.
5.      Tujuan SMK Negeri Situraja
Tujuan pendidikan dari SMK Negeri Situraja yaitu:
a.       Membantu Pemerintah dalam menanggulangi Siswa Putus Sekolah.
b.      Mewujudkan tamatan SMK yang Profesional,Unggul, beriman dan Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
c.       Melayani kebutuhan Dunia Industri/Dunia Usaha.
d.      Memiliki dan menguasai pengetahuan dan keterampilan ditingkat menengah sebagai bekal dirinya dalam berwirausaha, bekerja ataupun melanjutkan kuliah keperguruan tinggi.
e.       Meningkatkan pelaksanaan fungsi profesional terampil, cerdas, kreatif, inovatif, dan mampu mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
f.       Bisa menata dan mengembangkan IPTEK dalam sehari-hari dan peningkatan kualitas SMK sehingga dapat mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
g.      Mempersiapkan peserta didik agar menjadi manusia yang berdisiplin, produktif dan profesional dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), maupun dalam bidang keimanan dan ketaqwaan (Imtaq) sesuai dengan program keahliannya.
h.      Memberikan keterampilan sesuai dengan program keahliannya agar mampu berwirausaha secara mandiri.
i.        Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan umum, teknologi, dan seni, agar mampu melanjutkan pendidikan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.
j.        Membekali peserta didik berkemampuan bahasa asing agar mampu beradaptasi dalam wawasan global, mampu bekerjasama, dan mampu bekerja bersama-sama.
k.      Meningkatka Kualitas dan Kuantitas SMK sehingga dapat mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
l.        Mengantisipasi atas keberhasilan Wajib Belajar 9 tahun.
6.      Standar Kompetensi Lulusan SMK
a.       Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
b.      Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya.
c.       Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya.
d.      Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial.
e.       Menghargai keberagaman agama, bangsa,  suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup global.
f.       Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
g.      Menunjukkan  kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan.
h.      Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
i.        Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
j.        Menunjukkan kemampuan  menganalisis dan memecahkan masalah kompleks.
k.      Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial.
l.        Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan  bertanggung jawab.
m.    Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
n.      Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya.
o.      Mengapresiasi karya seni dan budaya.
p.      Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok.
q.      Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan.
r.        Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun.
s.       Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
t.        Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain.
u.      Menunjukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis.
v.      Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
w.    Menguasai kompetensi Kompetensi keahlian dan kewirausahaan baik untuk memenuhi tuntutan dunia kerja maupun untuk mengikuti pendidikan tinggi sesuai dengan kejuruannya.
7.      Tujuan Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan
a.       Membekali peserta didik  dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar kompeten dalam bidangnya.
b.      Membekali peserta didik agar dapat bekerja baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah.
c.       Memilih karir, berkompetisi, dan mengembangkan sikap profesional   dalam Kompetensi keahlian Teknik Kendaraan Ringan.
d.      Berwirausaha.
8.      Tujuan Kompetensi Keahlian  Teknik Komputer dan Informatika
Tujuan Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Informatika adalah membekali peserta didik  dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar kompeten.
9.      Mata Pelajaran di SMK Negeri Situraja
Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan, disamping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum.
Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam SI.
Mata pelajaran di SMK Negeri Situraja adalah:
a.       Pendidikan Agama (Islam/Kristen/Protestan/Hindu/Budha)
b.      Pendidikan Kewarganegaraan
c.       Bahasa Indonesia
d.      Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
e.       Seni dan Budaya
f.       Matematika
g.      Bahasa Inggris
h.      Fisika
i.        Kimia
j.        IPA
k.      IPS
l.        KKPI
m.    Kewirausahaan
n.      Dasar Kompetensi Kejuruan
o.      Kompetensi Kejuruan.
B.     Hasil Wawancara
Kami melakukan wawancara di SMK Negeri Situraja, yaitu dengan salah seorang pengajar dan juga sebagai seksi Humas di SMKN Situraja, adalah Drs. Dedi. dengan hasil wawancara sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah hubungan lembaga sekolah dengan masyarakat?
      Jawaban: Dalam hubungan lembaga sekolah dengan masyarakat, dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu:
            a.       Masyarakat sekolah
            b.      Masyarakat sekitar/umum
            c.       Masyarakat industri
2.      Bagaimanaah hubungan antara pihak lembaga sekolah dengan masyarakat sekolah ?
      Jawaban: Masyarakat sekolah itu sendiri terdiri dari siswa, staf tata usaha, pegawai, Guru, Kepala Sekolah, dan yang lainnya. Dan hubungan antara pihak lembaga sekolah dengan masyarakat sekolah terjalin sangat baik yang dimana sampai sejauh ini, dalam melaksanakan program – program sekolah, masyarakat sekolah selalu mendukung, mentaati dan menjalankannya sesuai dengan aturan yang telah disepakati.
3.      Bagaimanakah hubungan lembaga sekolah dengan masyarakat sekitar ?
      Jawaban: Hubungan antara pihak lembaga sekolah dengan masyarakat sekitar adalah sangat baik, dalam arti masyarakat selalu mendukung segala aktivitas yang dilakukan oleh pihak sekolah. Selain itu juga, sebagai salah satu bentuk kerjasama antara lembaga sekolah dengan masyarakat sekitar yaitu di persimpangan jalan yang menuju kearah sekolah SD, sudah disiapkan tim dari sekolah, yaitu tim Patroli Keamanan Sekolah (PKS) yang tugasnya adalah mengatur lancarnya lalu-lintas dijalan raya dan membantu menyebrangkan siswa yang akan menyebrang jalan.
      Kemudian jika ada kegiatan – kegiatan seperti pentas seni, masyarakat selalu melibatkan sekolah untuk mengadakan kegiatan tersebut. Dimana jika sekolah dapat memfasilitasi/membantu, maka sekolah akan membantu sebisanya misalnya jika kegiatan tersebut membutuhkan alat – alat seni (angklung, gamelan/degung), dan lainnya. Dan sekolah memiliki peralatan tersebut, maka sekolah akan memberikan pinjam.
      Sekolah mempunyai bagian hubungan masyarakat (HUMAS) yang diketuai oleh Bapak Ading Suherian, S.Pd. yang sekaligus ketua organisasi pemuda (Karang Taruna) sehingga komunikasi dapat terjalin dengan lebih baik yang dapat membantu sekolah untuk melakukan hubungan antara sekolah dengan masyarakat sekitar.
      Kemudian selain itu juga, bahwa pihak lembaga sekolah dapat dikatakan dekat dengan masyarakat dan mempunyai hubungan komunikasi dua arah, buktinya sekolah menjalin kerjasama dengan salah satu organisasi pemuda (Karang Taruna) daerah setempat. Kerjasama ini dikatakan sangat membantu sekolah, misalnya ada seorang siswa yang dari rumahnya berangkat mengenakan seragam, tetapi tidakmasuk kelas dan siswa tersebut kedapatan sedang diwarung/nongkrong, padahal masih jam belajar. Maka pihak masyarakat akan langsung melaporkan kepada pihak sekolah.
      Hubungan sekolah dengan masyarakat dikatakan sangat baik, karena awal berdirinya sekolah ini merupakan usulan dari masyarakat sekitar yang ingin didaerah ini ada SMK karena memeng jarak SMK yang ada di daerah ini sangat jauh letaknya. Walaupun SMK di Sumedang ini khususnya ada 52 SMK, tetapi semuanya terpusat di kota Sumedang.
4.      Bagaimanakah hubungan lembaga sekolah dengan masyarakat industri ?
Jawab: Hubungan lembaga sekolah dengan lembaga industri juga sudah cukup baik, karena dari siswa sendiri sudah ada yang magang di salah satu perusahaan besar, tepatnya di PT. Toyota sejumlah 10 siswa. Selain itu, ada juga alumni yang bekerja disana.
Setiap tahunnya, Pihak industri sebenarnya selalu datang dan meminta sejumlah siswa alumni SMK ini untuk bekerja di perusahaan – perusahaan tersebut. Tetapi sekolah belum dapat memenuhi semua permintaan pihak industry dengan berbagai alasan diantaranya: dari siswa sendiri dimana kebanyakan siswa lebih memilih untuk bekerja di daerah sekitar (dalam istilah sunda disebut dengan “kurung batok”), memang selain itu ada kelemahan dari personal alumninya berupa soft skill walaupun dari segi hard skill kemampuan mereka tidak kalah dengan alumni SMK lain.
5.      Apakah sekolah sebagai lembaga sosial sudah mampu berperan sebagai agen of change, selecting agency, dan class leveling agency dalam hubungannya dengan masyarakat ?
      Jawab: Sebagai  agen of change, kepada masyarakat peserta didik, sekolah berusaha merubah paradigma berfikir dan berperilaku siswa kearah yang lebih baik, untuk menjauhkan siswa dari perilaku/norma – norma standar yang menyimpang.
      Fungsi lembaga sebagai selecting agency, yaitu lembsga sekolah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk dapat memilah dan memilih potensi yang beragam dari siswa, misalnya dengan cara siswa dari awal dites minat dan bakatnya, baik tes lisan maupun tulisan, dari sana sekolah dapat mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dan harus diarahkan kejalur yang sesuai dengan bakat dan minatnya tersebut.
      Adapun berdirinya sekolah ini sebagai class leveling agency yaitu mencoba untuk menjadi perantara sebagai peningkat taraf sosial masyarakat peserta didik.
6.      Dalam pelaksanaannya dilapangan, apakah hubungan antara sekolah dengan masyarakat megalami kendala – kendala yang cukup berarti, seperti tujuan komunikasi yang kurang jelas ?
      Jawab: Hubungan sekolah dengan masyarakat, sekolah memiliki bagian HUMAS tersendiri sehingga jika ada suatu permasalahan dengan sekolah, masyarakat dapat langsung berkomunikasi ke bagian HUMAS baik itu keluhan, informasi sekolah, maupun program – program sekolah yang ingin diketahui masyarakat.
            Selain itu pihak sekolah selalu mengundang masyarakat sekitar (orang tua murid) untuk menentukan besar anggaran yang harus dipenuhi oleh sekolah dan diputuskan berapa besar biaya yang harus dipenuhi oleh setiap orang tua siswa, dan untuk mengatasi tujuan komunikasi yang kurang jelas itu, biasanya sekolah mengadakan rapat koordinasi dengan mengundang seluruh orang tua siswa, komite sekolah dan melibatkan jajaran guru untuk transparansi anggaran yang diadakan setiap enam bulan sekali.




BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Secara sederhana “Hubungan” atau “communication” dapat diartikan sebagai process by wich a person transmits a massage to another (proses penyampaian berita dari seorang kepada orang lain). Kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat disini mengandung beberapa pelibatan secara langsung yaitu:
1.      Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain (juga sebagai sumber berita)
2.      Apa yang disampaikan (isi/informasi)
3.      Alat, medis yang digunakan (dapat berupa kata-kata bunyi, laporan dan lain sebagainya)
4.      Tujuan penyampaian, (dapat perintah, pemberitahuan)
5.      Orang yang menerima informasi (komunikasi/communicate)
6.      Response/jawaban yang diberikan oleh sipenerima.
sekolah sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang sosial dan hal ini harus mampu berperan sebagai agent of change, selecting agency, class leveling agency, assimilating agency, dan agent of preservation. Sebagai agent of change tentu lembaga pendidikan hendaknya lebih mengedepankan peran dan fungsinya sebagai pembaharu bagi masyarakat peserta didik dan masyarakat umum terutama dalam menggali potensi yang mengarah pada paradigma dan perubahan berpikir dan berperilaku yang sesuai dengan standar norma yang berlaku, sehingga jika masyarakat peserta didik melakukan pelanggaran atas hal tersebut, maka ada dua pertanyaan yang dikemukakan apakah lembaga tidak berhasil dalam mendidik peserta didik ataukah peserta didik itu sendiri yang memang susah untuk dibentuk sebagai manusia berakal yang berakhlakul karimah.
Sedangkan sebagai selecting agency lembaga hendaknya mau dan mampu memilih potensi masyarakat yang beragam, tentu hal ini membutuhkan keterampilan – keterampilan khusus, terutama dari pengelola pendidikan sehingga pada gilirannya potensi masyarakat dalam hal ini peserta didik mampung berkembang secara optimal
Adapun peran dan fungsi lembaga pendidikan sebagai class levelling agency hendaknya lembaga pendidikan mampu menjadi perantara sebagai peningkat taraf sosial bagi masyarakat peserta didik itu sendiri, sehingga kecenderungan peserta didik untuk berperilaku yang menyimpang.
B.     Saran
1.      Bagi Panulis:
Mudah – mudahan dengan makalah ini, bagi penulis sendiri dapat menjadi lebih faham seperti apa hubungan sekolah dengan masyarakat itu serta menambah ilmu pengetahuan, dan semoga bermanfaat
2.      Bagi Pembaca:
Besar harapan kami, agar pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang membangun guna untuk penulisan makalah ataupun karya tulis dalam kesempatan yang lainnya agar menjadi lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan. (2010). Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Jurusan Administrasi Pendidikan.

Asrori Ardiansyah.M. (2011). Bentuk Kerjasama Sekolah dengan Masyarakat. [Online]. Tersedia: http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/bentuk-kerjasama-sekolah-dengan.html. [27 April 2011].

Rosyidi, Edward. (2011). Konsep Kerjasama Sekolah Dan Industri. [Online]. Tersedia:http://www.edwardrosyidi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2:konsep-kerjasama-sekolah-dan-industri-&catid=3:artikel&Itemid=2. [27 April 2011].




1 komentar: